Posted in Do It Yourself

DIY Camera Toy

Tadinya Mamak mau menggalakan gerakan #1minggu1prakarya selain mengisi hari-hari bersama Papa, Arsyad dan adek dengan family project yang seru. Tapi belum konsisten, nih. Masih ada minggu-minggu yang terlewati tanpa ada sentuhan tangan Mamak yang berkreasi menciptakan sebuah masterpiece (levelnya doooong… masterpiece. PD amat, yak. Hihihii). Seminggu tanpa berprakarya itu rasanya hampa. Bagai sayur tak bergaram. Apalagi berminggu-minggu, bagai sayur tak bergaram tak berkuah. Onggokan sayuran dalam panci aja kayaknya itu mah namanya. Ah, kebanyakan curhat ini mukadimahnya. Langsung ke proses sajaaaa…!

Wait, sebelumnya Mamak harus jelaskan dulu ide bebikinan mainan kamera ini darimana asal muasalnya. Awalnya sih, gegara melihat Arsyad yang senang memainkan phone holder-nya Abah yang buat ditempel di kaca mobil. Suka dia jadikan kamera-kameraan gitu. “Cekrek. Cekrek.” Katanya begitu setelah memanggil orang-orang yang di dekatnya dan berpose layaknya fotografer profesional. Jadi tetiba ada gambar lampu pijar menyala di atas kepala Mamak. Aha! Mari kita membuat kamera mainan buat Arsyad. Kemudian survey dan surfing lah Mamak, menjelajahi beberapa blog yang memuat “how-to”nya. Dari sekian banyak tulisan, Mamak kesengsem banget sama karyanya photobaby. The camera toy looks so real!

Dan inilah camera toy versi Mamak! 😀

Yang Mamak siapkan untuk membuat kamera mainan ini adalaaaaah…. :

Continue reading “DIY Camera Toy”

Posted in Kisah Mamak, Yaa Bunayya

Ruang Kelas Bocah Pengeja Semesta

Memiliki sebuah ruangan khusus tempat anak-anak bermain dan belajar adalah impian Mamak sejak Arsyad masih berwujud bayik merah. Papa mungkin sampai bosan mendengarkan celotehan Mamak tentang sebuah ruangan heuseus buat Arsyad (dan adik-adiknya kelak) yang harus beginilah begitulah blaa.. blaa.. blaaa.. Dari sana, Mamak mulai memeras otak memikirkan bagaimana sebaiknya ruangan ini dibuat dengan memperhitungkan kondisi rumah, budget dan lain-lain. 

Memangnya, perlu banget ya punya ruangan kelas di rumah?

Menurut Mamak sih perlu. Sangat perlu. Ada banyak pertimbangan yang mengarahkan Mamak untuk bisa memandang ruangan tersebut sebagai kebutuhan yang cukup penting. Diantaranya,

  • Rumah kami hanya memiliki satu ruang tengah saja yang difungsikan macam-macam. Sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang baca, kadang dipakai lahan bermain Arsyad juga. Tapi kalau setiap saat Arsyad bermain di ruang tengah, agak risih juga kalau ada tamu yang berkunjung dan dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang sedang terlihat seperti kapal pecah!
  • Buku, mainan dan media-media belajar lainnya bisa disimpan rapi di dalam ruangan kelas meskipun tak melulu dipakai di ruangan tersebut, setidaknya mereka punya “rumah” tetap, tak akan tergusur oleh acara apapun. Misalkan ada acara kajian di rumah dan mengharuskan ruang tengah menyisir bersih perabotan yang ada di sana. Nah, kalau buku-mainan dkk sudah punya tempat permanen, mereka ngga harus mengungsi.
  • Jika ternyata pada suatu waktu Mamak/Papa belum bisa mengajak Arsyad dan adek merapikan barang-barang mereka dan kami merasa kelelahan untuk beberes, barang-barangnya tidak tercecer di ruangan lain, yaaa.. berantakan saja begitu di ruang kelas karena Arsyad dan adek juga menggunakam barang-barang itu di ruangannya.
  • Meskipun selama ini Arsyad bisa bermain dan belajar dimana saja, Mamak ingin setidaknya ada satu tempat khusus yang dibuatkan untuk Arsyad dan adek berinteraksi dengan benda-benda yang juga khusus dihadirkan untuk mereka, tempat khusus untuk Papa dan Mamak menghabiskan waktu bersama mereka.
  • Harapannya, dengan adanya ruangan khusus ini, Arsyad dan adek nantinya bisa serius belajar karena Papa dan Mamak juga tidak main-main menyiapkan ini semua (walaupun dalam perjalanannya penuh lika-liku trial and error).
  • Ini juga menjadi pemicu Mamak dan Papa untuk selalu semangat belajar. Bagi Mamak sendiri, melihat ruang kelas ini dengan sederetan buku, mainan dan lainnya (yang sebetulnya belum begitu banyak) selalu jadi mood booster untuk semangat belajar lagi. (Saat tulisan ini dibuat, Mamak masih harus menempuh perjalanan lebih dari 9 bulan di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional 😀 )
  • Hmmm.. apalagi ya? Mungkin masih banyak. Let’s find out while the class is going on! 

    Ruangan kelas ini tidak serta merta tertata seperti ini. Awalnya, masih berupa spot kecil di pojokan ruang tengah. Ketika si ruang kelas masih berupa “pojok belajar”, ruangan ini adalah kamar tidur Papa, Mamak dan Arsyad. Pojok belajar ini dibuat ketika Arsyad berusia sekitar 10 bulan. 

    Masih begitu sederhana dengan mainan yang kebanyakan hasil recycle. Buku-buku bacaannya masih tersimpan di rak bawah TV. Menginjak usia 14 bulan, Arsyad sudah bisa berjalan lancar. Mamak ingin kasih sesuatu yang istimewa sebagai reward atas pencapaiannya itu. Maka diubahlah ruang tidur menjadi double function room: untuk tidur dan untuk belajar. 

    Agar leluasa, saat bangun pagi, Mamak/ Papa akan membereskan bantal-bantal dan selimut, memasukkan mereka ke keranjang, memberdirikan kasur dan menyimpannya di salah satu sisi tembok ruangan. Jika waktunya tidur siang Arsyad, kami menggelar bed cover dan beberapa bantal untuknya sebagai pengganti tempat tidur. Menjelang waktu tidur malam, Mamak akan membereskan lantai ruang kelas dan menyiapkan kasur lengkap dengan bantal dan selimutnya.

    Sedikit demi sedikit koleksi kelasnya bertambah, aktivitas belajar Arsyad pun semakin bervariasi meskipun Mamak tidak bisa optimal menyiapkan ragam kegiatan untuknya belajar. Terpikir oleh Mamak bahwa double function room ini menjadi kurang efektif. Belum lagi kegiatan membereskan dan menyiapkan perangkat tidur yang makin hari makin melelahkan bagi ibuk hamil ini, heheee.. Akhirnya, ruangan ini sepenuhnya didedikasikan untuk belajar dan bermain Arsyad dan adek. Eh, masih double function room, deng. Karena setelah tempat tidur berpindah ke ruangan depan, tempat sholat otomatis berpindah juga. Ke ruangan ini. 😀 Mamak kira sih it’s still okay. Sekalian mengajak Arsyad belajar sholat di ruangan ini. Yaaa.. bocah ini masih suka bilang “moal” (ngga akan) ketika diajak sholat dan malah main. Well, setidaknya dengan dia melihat orangtuanya sholat, insyaAllah akan menjadi pelajaran juga buatnya bahwa dia sebagai muslim wajib mendirikan sholat. Children learn by seeing and immitating, right?

    Namanya ruang kelas, ya. Tapi yaaa.. begitulah yang ada di dalam sini mungkin tidak terlalu mencerminkan namanya. Sengaja ditata sedemikian hingga Arsyad (dan adek juga nanti) betah dan mau belajar di sini. Alhamdulillah, Arsyad kalau bermain ya di sini sekarang. Sudah sangat jarang membawa mainan-mainanya ke ruang tengah dan memainkannya di sana. Kalau baca buku masih tentatif, apalagi saat akan tidur. Bukunya diboyong ke ruangan tidur. Salah satu PR-nya adalah membuat Arsyad mau membereskan barang-barangnya setelah digunakan. Kadang cuek, kadang malah sengaja mengambil kotak mainan lain dan membrudulkan seluruh isinya sambil tertawa jahat (ngga, deng. ini mah emaknya aja yang berlebihan), kadang mau diajak membereskan sampai selesai, kadang mau tapi sebentar. Tapi pernah juga dia sendiri inisiatif memasukkan mainannya ke dalam kotak sebelum minta ditemani main yang lain. Kalau buku, dia sudah lebih mandiri dalam membereskannya. ❤

    Rasanya senaaaaaaang sekali saat melihat Arsyad beraktivitas di sini. Saat ini ruang kelasnya hanya berisi satu orang murid, insyaAllah sebentar lagi muridnya bertambah satu. 😀 Pasti akan tambah menyenangkan dengan adanya dua bocah bermain dan belajar di ruang kelas ini. ❤ ❤

    Saat ruang kelasnya masih berfungsi ganda sebagai ruang tidur juga.

    Kadang ruang kelas ini jadi bengkel dadakan juga. Hihihii

    Ruang kelas yang jarang sekali rapi. 😀

    Posted in Kisah Mamak

    Balada Adm.

    Ketik-ketik-ketik.

    Beberapa minggu ini, Mamak jadi mendadak dangdut (a)dmin. Awalnya, gegara Papa yang diamanahi tugas tambahan di lingkungan RW sebagai sekretaris dan mulai hectic dengan kerjaannya di sana tersebab akan diperiksanya administrasi RW oleh petugas desa. Papa yang juga sedang memadat jam kerjanya tentu tidak bisa mencurahkan segenap jiwa raganya (etdaah) pada pekerjaan RW tapi deadline tidak memiliki rasa belas kasihan. Deadline tetaplah deadline yang mematikan jika dilanggar. Maka dari itu, turunlah Mamak ke garda terdepan (di belakang Papa, behind the scence of Papa’s works). Ngga semua sih dikerjakan Mamak, yang kira-kira membutuhkan banyak waktu untuk diselesaikanlah yang terpaksa Mamak kerjakan. Yaaah.. ngga ikhlas dong, Mak.. ckckck *emoticon monyet tutup mata*

    Seru, sih. Karena bagian Mamak kebanyakan main-main sama photoshop, “game” kesukaan Mamak. Macam bikin beberapa bagan struktur organisasi (lah, ini mah di ms. word juga bisa kali. Yatapi karena mau dibuat ukuran besar dengan media cetak non-kertas untuk ditempel di dinding); termasuk ngedit foto-foto pengurus RW yang kebanyakan diambil di dalam ruangan kantor RW, malam-malam dengan pencahayaan seadanya dan bantuan kamera hp (jadi terinspirasi buat buka jasa bikin pas foto); juga bikin peta RW (from scratch, dong. Papa ngambil areanya dari penampakan di google maps). Selebihnya, membuat template dan cover buku-buku administrasi RW, cocok sekali buat Mamak yang hobi corat-coret. Tidak cocok buat Mamak yang hobi corat-coret tapi lagi ngga mood karena kerjaan rumah numpuk belum selesai. Yang ngga sempat Mamak kerjakan adalah membuat spanduk keperluan parade memperingati 17 Agustus-an. Itu request bikinnya pas tanggal 16 kemarin, malam-malam, Mamak lagi tidur, kecapean, dan harus jadi malam itu juga. Katanya mau dibawa ke percetakan, MALAM ITU JUGA. Sambil setengah sadar, Mamak bilang ke Papa ngga sanggup dan minta orang lain saja yang buatkan. Akhirnya, Papa lah yang setengah mati main-main sama mouse di photoshop. Maaapin ya, Paaaaps ❤

    Ngadmin kedua, ngga kalah asik. Ini waktu Mamak dipinang jadi salah satu tim dapur RB (Rumah Belajar) Cibiru IIP Bandung. Kerjaan Mamak di sana? Seminggu sekali tiap hari Kemis membuka dan menutup aktivitas whatsapp group RB Cibiru sambil memoderatori kegiatan sharing tematik dan mengenal lebih dekat bersama narasumbernya di WAG tersebut. Tambahannya paling bebikinan lagi di photoshop, semisal flyer dan visual appreciation. Ah, having fun weh lah. Ngga ada tugas-tugas perihal administrasi yang “berat”, paling hanya menyusun resume sari hasil sharing Kamisan itu.

    Nah, yang ketiga ini nih yang paling bikin Mamak pengen lari dari kenyataan. Hahaa. Continue reading “Balada Adm.”

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (10)

    Sabtu ini Desa kami mengadakan salah satu kegiatan annual-nya yaitu Pawai Pembangunan dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia. Karena Papa adalah salah seorang petugas RW, Papa tidak boleh absen dalam barisan iring-iringan pawai. Dan parade ini dimulai pagi sekali, pukul 7 semua peserta pawai dari RW kami harus sudah kumpul di lapangan untuk diberikan arahan dulu sebelum memulai long march. Jadi, tidak banyak kegiatan yang dilakukan di Kebun Rahasia tapi kami mengunjunginya lebih pagi dari biasanya, beberapa belas menit usia sholat Subuh. Langit masih gelap, Kebun Rahasia bermandikan cahaya lampu dari atas teras belakang rumah.

    Seperti hari-hari lainnya, aktivitas pagi Papa yang pertama adalah memberi makan ayam dan burung. Mereka mungkin agak kaget, matahari belum menyingsing tapi makanan sudah tersedia. Hihihi. Tugas menyiram dan inspeksi tanaman diambil alih sepenuhnya oleh Mamak. Tapi sebelumnya, Mamak dan Arsyad bermain cat lengket. Anehnya, pagi itu Arsyad terlihat asing dengan catnya dan enggan memainkannya seperti kemarin lusa. Dia malah sampai menangis melihat tangannya lengket penuh cat warna oranye dan ungu. Wah, ada apa ini? Apa Arsyad sudah lupa dengan si cat lengket? Atau.. mood Arsyad belum bangun sepenuhnya mengingat ketika kami mengeksekusi cat itu adalah sekian menit dari bangunnya Arsyad dari tidur? Padahal Arsyad sendiri yang mengajak Mamak untuk bermain cat lengket. Arsyad kemudian cuci tangan dan membantu Papa membuat pakan ayam. Ikutlah dia ke kandang ayam bersama Papa. Oke, Mamak lanjut menyiram tanaman saja. Setelah tugas-tugas harian kami di kebun selesai, Papa dan Arsyad bersiap berangkat dan Mamak mulai kegiatan beres-beres rumah.

    Off to the Parade!

    Continue reading “Family Project : Kebun Rahasia (10)”

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (9)

    Kami mengawali pagi di hari Jum’at ini dengan lebih sibuk dari biasanya. Papa dimintai tolong oleh Eninnya Arsyad untuk membeli semur jengkol untuk dibawa ke sekolah tempat Enin mengajar. Mau ada acara botram katanya. Sudah 2x balik ke tempat yang dimaksud, Papa pulang dengan tangan hampa karena tempatnya belum buka. Mamak juga sehabis sholat Subuh harus kejar tayang menyelesaikan revisian administrasi RPP dkk milik Enin. Harus selesai pagi ini karena akan dibawa Enin ke sekolah. Selesai ngetik-ngetik ngebut, langsung ke dapur bikin sarapan. Alhamdulillah, Arsyad kooperatif, mau main sendiri di “ruang kelas”-nya. Dan karena Papa harus berangkat pagi-pagi, Papa hanya sempat memberi makan ayam dan burung. Parahnya, Mamak juga sampai lupa menyirami tanaman. *tepuk jidat* Rupa-rupanya, kelelahan kemarin yang masih bersisa dan kesibukan pagi tadi membuat emosi Mamak jadi tidak stabil. Mamak sampai mengomeli Arsyad karena menahan pipis sampai akhirnya dia pipis di celana di perjalanan menuju kamar mandi. Astagfirullah..

    Mamak ambil time-out sejenak. Selesai sholat dhuha, Mamak lumayan bisa mengendalikan diri lebih baik dan bisa membersamai Arsyad bermain dengan baik dan benar. Tadinya, sore hari sebelum mandi, kami berdua akan main cat lengket lagi di kebun. Tapi sehabis Ashar, Arsyad malah diajak main ke rumah Enin. Jadi kegiatan kami berdua hari ini hanya main air di tempat pencucian piring (Mamak sambil cuci piring, hihi), main mobil-mobilan dan binatang di ruang kelasnya Arsyad, nonton film Dinosaurs, membaca buku, dan bercerita. Arsyad sedang senang-senangnya mengabsen angka 1 – 10. Jadi dalam kegiatan apapun, di hampir setiap kesempatan dia pasti menghitung apapun yang dia lihat. Dimulai dari angka “dua” (entah kenapa dia selalu melewatkan angka “satu”) yang selalu Mamak koreksi untuk memulai kembali dari angka “satu”. Tak lupa setiap berhasil menyebutkan angka “…luh” (10), Mamak ajak dia mengucapkan “alhamdulillah”. Biasanya, setelah itu dia juga senang mengapresiasi dirinya sendiri dengan berseru, “Yeaaaaa…!!”. 😀

    Kirim foto ke Papa yang baru mau pulang (tadi sehabis Isya). Senang ya Nak, hari ini? 🙂

    Nah, sudah beberapa hari ini Papa dan Mamak menaruh perhatian lebih pada si kolam mini karena ada beberapa ikan ditemukan mati mengapung. Kami pun membahas kemungkinan-kemungkinan penyebab kematian ikan-ikan itu. Apakah memang mereka pada dasarnya tidak sehat sehingga terkena seleksi alam dengan mudahnya, apakah pengaruh cuaca, apakah karena panas matahari yang berlebihan, air yang terlalu dingin sampai akhirnya kami tiba pada kesimpulan bahwa kolam kami perlu dipasangi filter. Dari hasil obrolan kami, selagi Papa mandi tadi sepulang kerja, Mamak pun langsung searching berbagai referensi daring mengenai cara pembuatan filter sendiri. Ini bisa dijadikan proyek keluarga selanjutnya, heheee.. Setelah menunjukkan beberapa contoh pembuatan filter kami pun membahas rancangan dan bahan-bahan yang akan dibutuhkan. Tidak akan tereksekusi dalam waktu dekat ini sih, tapi setidaknya sudah ada planning. Waaah.. nanti makin sedap saja yaa si Kebun Rahasia. Apalagi ditambah lukisan-lukisan karya Arsyad di dinding kebun. ❤

     

    Hmmm… Kebun Rahasia ini mungkin nantinya selain tempat hunian tanaman-tanaman penyejuk mata (juga penambah kebutuhan memasak Mamak), bisa difungsikan sebagai tempat refreshing kami, dan alternatif tempat bermain dan belajar Arsyad dan adik-adiknya. Aaah.. lovely! Family project kali ini benar-benar luar biasa!

     

    #Day9 #Level3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunSayIIP

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (8)

    17 Agustus, tanggal yang identik dengan dominasi warna merah dan putih (Hmmm.. apa Mamak aja ya mikir begitu), tapi kami awali bertiga dengan penuh warna ceria! Yeayyy…!

    Sesi bermain warna lagi, dengan media baru (buat Arsyad). Ceritanya ini cat lengket yang Mamak buat sehabis cuci piring tadi sesubuhan tadi. Terinspirasi dari resep-resep cat ramah anak yang banyak ditemukan dimana-mana seperti website-nya Mom C dan Mainan Eduka. Catnya Mamak buat dari campuran tepung tapioka dan air (perbandingannya 1 : 5), ditambah sedikit gula putih & garam. Campurannya dimasak di dalam panci dengan api kecil sampai mengental. Setelah dingin dimasukkan ke dalam wadah lalu diberi sentuhan macam-macam warna dari pewarna makanan. Awalnya ketika Arsyad ikut mencampurkan pewarna makanan ke dalam adonan cat yang sudah dingin, dia kesal tangannya kotor dan lengket, sampai nangis-nangis. Tapi begitu catnya sudah jadi dan Mamak bawa ke Kebun Rahasia, sambil diberi contoh “bagaimana memainkannya”, dia malah jadi ketagihan main.

    Saat Mamak menyiapkan cat bersama Arsyad, Papa memberi makan ayam dan burung sekaligus mengambil alih tugas menyiram pagi. 😀 Papa juga sempat memindahkan tanaman sawo ( yang kami tanam dari biji, lhoo.. ❤ ) ketika Mamak dan Arsyad asik bermain cat aci (tepung tapioka). Setelah cat yang ada dalam piring habis, Mamak mandikan Arsyad dan mengajaknya membeli beberapa gorengan di dekat rumah. Papa yang suka sekali kudapan khas Indonesia ini, makin senang karena bisa memakannya dengan cabe rawit yang dipetik langsung dari kebun. Hihihi. Alhamdulillah, kami merdeka dari keharusan membeli cabe rawit untuk keperluan sambal ulek, teman gorengan, taburan mie rebus atau nasi goreng. Merdeka!!! 😀

    Continue reading “Family Project : Kebun Rahasia (8)”

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (7)

    Hari Rabu, Papa libur kerja tapi tetap tidak banyak yang kami lakukan untuk proyek hari ini. Yaa.. tidak seheboh di dua Big Days hari Sabtu dan Minggu kemarin. Papa dan Mamak agak kurang fit hari ini jadi kami memutuskan hanya melakukan rutinitas harian saja dan menonton film bersama di sore hari.

    Pagi ini kami mulai dengan melakukan tugas masing-masing. Arsyad memberi makan ikan, Papa memberi makan ayam dan burung, Mamak memberi minum semua tanaman.

    Sampai diperhatikan apakah ikan-ikannya langsung memakan makanan yang dia berikan. 😀

    Lalu Arsyad meminta bermain semprot api dan menggambar dengan kapur. Kali ini dia membuat ular, bulan dan bintang katanya. Dengan komposisi warna masih didominasi warna hijau dan bentuk masih seperti ular yang sedang menggelung. Hihihi. Usai Papa memberi makan ayam dan burung, Papa mengajak Arsyad ke lapangan RW sambil membawa bola.

    “Aga..! Poiii, Papa.” Mau pergi olahraga di lapangan volley bersama Papa katanya sambil mencium tangan Mamak. Kami mengajarkan Arsyad untuk selalu pamit sebelum dia pergi meskipun hanya ke warung terdekat.

    “Arsyad badé kamana?” (Mau kemana?)

    “Sareng saha?” (Sama siapa?)

    “Hati-hati, nya.. Cepengan tangan (…..).” (Hati-hati, ya. Pegang tangan (…/ orang yang menemani Arsyad).

    “Ati.. atiiii…” Biasanya dia suka mengikuti mengucapkan kata itu setelah mencium tangan kami dan mengucapkan salam, “Akuum..!”

    Nah, ketika Papa dan Arsyad menghabiskan waktu bersama berdua saja setelah beberapa hari belakangan ini Papa lembur (Pagi hanya sempat memandikan Arsyad, Papa pulang Arsyad sudah tidur pulas), Mamak membuka salon dadakan seperti yang Mamak lakukan pada tanaman Hanjuang di hari Minggu kemarin. Kali ini yang Mamak eksekusi adalah dua tanaman Cabe yang terletak di atas tempat mesin pompa air. Kalau Hanjuang penuh dengan kutu putih, hampir seluruh daun Cabe-cabe ini dihinggapi kutu kecil berwarna hitam. Ukurannya lebih kecil dari kutu putih tapi lebih bandel nempelnya. Mamak sampai mengorbankan botol semprotan pelicin pakainan untuk menyalon si cabe karena alat semprot tanaman yang kami punya ini harus dipompa berkala. Ceritanya untuk menghemat energi yang dikeluarkan dan mengefektifkan waktu. Hehehee. Kata Papa, menanam cabe memang paling challenging. Paling mudah diserang hama, semacam kutu hitam ini. Harusnya sih disemprot dengan larutan bawang, tapi karena kami tidak punya stok larutan tersebut jadilah daun cabe-cabenya cukup dibilas dengan air saja. Beberapa helai daun yang memang sudah sangat parah terkena kutunya, Mamak petik dan buang. Haaah.. setelah selesai rasanya lega mungkin selega si cabe yang berkurang rasa gatalnya dari serangan si hama-hama legam.

    Continue reading “Family Project : Kebun Rahasia (7)”

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (6)

    Masih tentang menyiram tanaman dan memberi makan ikan. Papa menjadi PJ tanaman di halaman belakang, Mamak PJ tanaman di area depan rumah dan Arsyad PJ kolam ikan. Kegiatan pagi dilakukan seperti halnya kemarin, dieksekusi oleh masing-masing PJ. Arsyad dan Mamak tidak melakukan banyak kegiatan lain di kebun hari ini karena anginnya kurang bersahabat. Kencaaang sekali. Jadi upaya antisipasi juga agar batuk dan pileknya Arsyad tidak kambuh lagi.

    Sore hari sebelum Arsyad mandi, angin memelankan hembusannya. Mamak jadi tidak khawatir ketika Arsyad mengajak main semprot api dan mereproduksi karya Picasso di dinding kebun.

    “Api…! Emmmm… Apuuurr… (Kapur)!!” Serunya bahkan sebelum selesai dipakaikan celana sehabis pipis di kamar mandi.

    “Oh, Arsyad mau main di luar? Yuk..”

    “Yuk yuk yuk yuuuuk…” Serunya lagi senang.

    Ketika Mamak berikan pilihan mau main semprot api atau kapur dulu, dia memilih kapur. Diberikanlah sekotak kapur warna yang kemarin kami pakai. Arsyad mulai menggambar, Mamak menyapu tanah yang diseraki daun-daun yang jatuh. Belum banyak coretan yang dihasilkan, Arsyad dipanggil sama Nenek Diah yang rumahnya bersebelahan dengan kebun mini kami. Jadilah kami main di rumah Nek Diah karena kebetulan juga cicitnya yang hanya berbeda sekitar setahun dengan Arsyad sedang ada di sana. Arsyad main bola dan pulang ke rumah memboyong oleh-oleh kue sagon dari Nek Diah.

    “U-un.” (Nuhun/ Terima kasih) Kata Arsyad ketika diberi kue sagon.

    “… akum!” (Assalamualaikum) Katanya setelah mencium tangan ke semua orang yang ada di rumah Nek Diah.

    “Dadaaah…!” Serunya lagi sambil melambaikan tangan.

    Sesampainya kami di rumah, Mamak ajak Arsyad mandi tapi doski keukeuh ingin segera makan kue sagon yang dibawanya. Mamak kasih sepotong dan memintanya memberi makan ikan setelah dia menghabiskan kuenya.

    Di satu sisi, ikan-ikan sedang berebut makanannya. Di sisi lain, anak bujang ribut minta kue lagi.

    Adegan ter-epic sepanjang proyek berlangsung selama 6 hari ini, terjadi setelah Arsyad mandi.

    Continue reading “Family Project : Kebun Rahasia (6)”

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (5)

    Tadinya karena Papa hari ini berangkat pagi-pagi sekali, si Kebun Rahasia akan hanya seputar Mamak dan Arsyad. Tak tahunya, Papa sempatkan menyiram tanaman sebelum berangkat. Menyisakan beberapa tanaman di depan rumah untuk lanjut disiram Mamak. Papa juga masih ingin ikut andil bagian di hari ini. Hihihi.

    Tak banyak yang kami berdua lakukan di Senin ini. Selain menyiram tanaman yang sudah menjadi rutinitas, Mamak juga mengecek keadaan tanaman yang kemarin Sabtu dipindah-potkan. Sejauh ini, tanaman cabe rawit masih terlihat agak layu. Semoga dia bisa bertahan dan berkembang. Arsyad memberi makan ikan sebelum kami pergi jalan-jalan membeli sayuran. Pulang dari membeli sayuran, langsung mencuci tangan dan kakinya, dia duduk manis di ruang tengah menagih sendok untuk dipakai makan puding ubi yang dia beli di toko sayuran. Pudingnya dia pegang terus dari toko sampai rumah. Hihihii. Tak beberapa lama, dia terlelap. Tumben. Normalnya tidur dhuhanya sekitar jam 10 atau 11 pagi, tapi memang sedari bangun Subuh tadi Arsyad terlihat tidak sesemangat biasanya. Mungkin masih kecapean sehabis main bola di lapangan sore kemarin bersama Papa. 😀 Bangun jam 10an, minta cemilan lagi. Habis itu, Mamak ajak bermain kapur di Kebun Rahasia. Melihat kapur warnanya, dia seperti bertemu kawan yang lama tak jumpa. Walaupun kegiatan menggambarnya tidak berlangsung lama, kami (khususnya Mamak) menikmatinya. Dari moment memilih kapur, membuat gambar ular di tembok, meminta Mamak ikut membuat gambar dengan memilihkan kapurnya, sampai menyuruh ikan-ikan di kolam ikut menggambar juga! Hihihi.

    “Kaaaan… ‘mbar!” Katanya sambil menghampiri kolam. Kapurnya dia taruh di atas ram kawat lalu berjongkok menunggu reaksi ikan-ikan tersebut.

    “Lho, ikannya harus menggambar juga?”

    ” ‘Mbar..! Kaaan..!” Masih keukeuh.

    “Ngga bisa gambar ikan mah, Sayang.. Hihihi. Yuk, Arsyad sama Mama aja yang gambar lagi.”

    “Yuuuk…”

    Ini backsound-nya Lagu “Kalau Bulan Bisa Ngomong”-nya Doel Soembang tapi digubah jadi “Kalau Ikan Bisa Gambar” 😀

    Kegiatan bersama Arsyad ini masih tentang angka 1 – 10, warna, dan ciptaan Allah. Sederhana sekali memang. Mamak hanya mengulang-ulang kalimat semacam, “Ular ciptaan Allah..”, “Ikan ciptaan..?, “Pohon ciptaan..? (Dijawab Arsyad Allah) Alhamdulillah.. (Diikuti penggalan lillah-nya oleh Arsyad). Juga mengajarkannya lagu:

    Satu-satu, Arsyad cinta Allah…

    Dua-dua, cinta Rasulullah…

    Tiga-tiga, cintaa.. al Qur’an…

    Satu-dua-tiga, Arsyad anak shalih..

    Alhamdulillah, Arsyad selalu mau ikut bernyanyi meski hanya mengucapkan bagian akhir tiap bait. Mamak berharap dengan seringnya informasi sederhana ini masuk ke dalam memori Arsyad, akal pikirannya akan lebih mudah mengenal, mengetahui, menganalisa ilmu tauhid nantinya. ❤

    Alon-alon asal kelakon ya, Nak..

    #Day5 #Level4 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP

    Posted in Family Project, IIP

    Family Project : Kebun Rahasia (4)

    Well, here’s the story of the 2nd BIG DAY

    Karena tiap Minggu pagi itu jadwalnya Papa ke pesantren, jadi kegiatan pagi Mamak ambil alih. Arsyad sudah lebih dulu ingin pergi ke Kebun Rahasia sebelum Mamak ajak dia. “Apiii…! Api…!”, katanya. Mungkin main peran sebagai petugas pemadam kebakaran kemarin cukup berkesan buatnya, jadi teringat-ingat terus. Hihihii. Kami main padamkan api sambil mengulang pelajaran kemarin. Setelah mandi, kami sarapan kupat tahu di rumah Enin dan kemudian berpisah. Arsyad main dengan Bi Caca, Mamak menyiram tanaman. Inginnya sih Arsyad ikut juga menyiram tanaman, tapi apa boleh buat, anaknya lebih memilih “jaja-an” (jalan-jalan). Dan kesendirian ini pun membuat terbersit pikiran untuk menunaikan keinginan yang sudah sekian lama tertunda terus. (Halah apa sih ini..)

    Continue reading “Family Project : Kebun Rahasia (4)”