Luasnya Makna Bersyukur

Courtesy : thebalance.com

Materi Cerdas Finansial di level 8 kuliah Bunda Sayang ini (lagi-lagi) memberikan banyak pelajaran buat Mamak. Salah satunya adalah bersyukur. 

Bersyukur…

adalah tidak mengeluhkan keadaan (khususnya finansial) saat ini, tetapi berpikir cerdas dan kreatif dalam mengelola keuangan keluarga dan menularkan kemampuannya pada anggota keluarga.

Bersyukur…

adalah membuka mata lebih lebar untuk melihat bahwa rejeki bukan semata-mata dalam bentuk materi. 

Bersyukur…

adalah tak henti-henti mengingat الله yang memberi kenikmatan yang tidak ada duanya. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?”

Bersyukur…

adalah tanda dari kemampuan mengelola emosi dalam membersamai keluarga dan senantiasa memperbaiki diri agar dapat menjadi ibu yang handal dan profesional.

Bersyukur…

adalah menerima dengan kelapangan hati apa yang الله tentukan untuk kita dan keluarga kita sehingga mampu berakal jernih mencari cara untuk menemukan jalan yang lurus-Nya, shiratal mustaqin. 

Bersyukur…

adalah meredam ego dan menahan nafsu sehingga senantiasa mengingat bahwa dari limpahan rejeki yang kita terima, ada orang lain dan masa depan kita yang berhak atas sebagian itu.

Mengingat value yang ditanamkan oleh IIP, “Rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari”, dan membuat sebuah titik temu bahwa dengan senantiasa bersyukur maka kemuliaan akan serta merta mengiringi. 

Insya Allah…

#KuliahBunSayIIP #Tantangan10Hari #Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Advertisements

DIY Miniatur Pom Bensin

Sudah sejak lama hasrat membuat miniatur ini terbersit. Kalau tidak salah, ketika Arsyad menyadari bahwa pom bensin di alas mainnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi apa daya, si Mamak ini pandai beralibi saja, tak pandai menyisihkan waktu untuk rajin bebikinan. Belanja ide di pinterest dari kapan, malam ini baru terlaksana. Padahal hasil akhirnya begituuuu sederhana!

Jadi, sebelum semua kemasan bekas produk dibumihanguskan (time out karena terlalu lama mengendap di penjuru rumah, sementara ide bebikinan dalam situasi stagnan), Mamak ambil satu kotak yang tidak rela Mamak buang begitu saja tanpa sempat di-upgrade; kotak jingga bekas telepon pintar yang sekarang dipakai untuk membuat tulisan ini. Lebih jelasnya, Mamak buatkan daftar benda dan alat untuk membantu membuat miniatur pom bensin ini: Continue reading “DIY Miniatur Pom Bensin”

“Menyeminar” Sambil Bawa Anak (Part 2)

diskusi-parenting-feb2018-1-1231261489.jpg

Tunai sudah perhelatan bulanan Kelas Berbagi (KB) Cibiru Komunitas Ibu Profesional Bandung digelar, ditutup dengan botram ibuk-ibuk pengurus yang merangkap panitia acara. Ini kali kedua Mamak hadir dalam acara diskusi, materinya kece, tapi Mamak gagal menyimak hampir seluruh materi yabg disampaikan. 🙈 Alibinya adalah karena dibersamai dua bocah lucu berusia 29 bulan dan 5 bulan. Bocah yang paling besar itu tidak mau duduk lama menekuni kegiatan apapun yang ditawarkan, maunya jalan-jalan ke sana kemari. Padahal masjid tempat diskusi berlangsung sudah penuh! Dengan polosnya bilang, “Punten,” sambil melewati ibu-ibu peserta diskusi menuju tempat yang dia mau. Dialah Arsyad. 😂 Hamdallah, Maryam mau digendong-gendong sama para uwa-nya sehingga tidak harus selalu digendong Mamak yang tadi itu bertugas menjadi MC.

Biasanya, sehabis pulang dari acara semacam ini Mamak bawa oleh-oleh ilmu baru untuk diamalkan dan dituliskan di sini. Maka khusus untuk hari ini, sama seperti pada Januari lalu ketika Mamak mengajak Arsyad ke acara bulanan KB Cibiru, Mamak hanya akan mengalirkan rasa tentang keseruan menyeminar sambil bawa anak-anak. Yihaaaa~ Continue reading ““Menyeminar” Sambil Bawa Anak (Part 2)”

Cerdas Finansial 10 : “Well-Prepared Vacation”

Long weekend kami di Februari ini sudah booked oleh Uyutnya Arsyad. Katanya beliau ingin liburan lagi ke wisata air panas Darajat Pass, Garut. Maka, pergilah kami berempat bersama Abah, Enin, Makcha, Makche dan saudara lainnya mengawal Uyut. Beberapa hari sebelumnya, Mamak dan Papa sudah membuat list barang yang akan dibawa dan perlu dibeli sebelum berangkat. Hanya saja, sounding ke Arsyad untuk tidak membeli makanan & minuman di sekitar tempat wisata agak kurang, nih. Semoga nanti Arsyad bisa dikondisikan dan mau bekerja sama. 😌 Kabar baiknya, beberapa hari terakhir ini, Arsyad jarang sekali jajan. Terlebih karena kami memang mulai memberlakukan kesepakatan dengannya untuk hanya membeli jajanan sekali saja dalam sehari dan tidak melebihi lima ribu rupiah. 


Setelah persiapan jauh-jauh hari sebelumnya, alhasil empat buah tas kami berhasil ikut berpartisipasi memenuhi bagasi mobil Abah. Repot, ya? Menurut Mamak iya. But it’s worth. Dari mulai kebutuhan pakaian hingga makanan & minuman dipersiapkan. Alhamdulillah, Maryam belum genap 6 bulan, sehingga Mamak tidak terlalu sibuk karena tidak harus menyiapkan MPASI-nya. Berulang kali Mamak cek keberadaan barang-barang yang mesti ada dalam masing-masing tas, meminimalisir “barang ketinggalan”. Sebenarnya tidak terlalu riskan sih, jika ada satu atau dua barang yang tertinggal, ada sebuah mini market di dekat cottage yang sudah kami pesan. Lupa tidak membawa kaos kaki atau diaper untuk Maryam atau Arsyad (Yes, Arsyad masih menggunakan diaper untuk kegiatan luar semacam ini), tinggal belo saja di sana. Ingin makan mie di malam hari yang dingin, tinggal beli juga di sana, atau pesan ke room service-nya. Tapi kami tidak sampai hati untuk mengeluarkan sekian rupiah untuk hal-hal yang sebenarnya tidak esensial seperti itu. 😂 Pelit? Mungkin.. tapi kami hanya sedang mencoba untuk menaati anggaran belanja bulanan kami.  Dengan begitu, hati senang ketika berlibur dan tenang ketika pulang. 

Nah, kalau ini katanya tips mudah berhemat menjelang liburan. Biar bisa travelling kemanaaaaa gitu, dengan persiapan yang cukup tanpa mengganggu anggaran yang sudah ditentukan. 😍

#KuliahBunSayIIP #Tantangan10Hari #Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Cerdas Finansial 8 : “Berdagang”

Sudah beberapa hari ini, Arsyad pasti selalu menenteng-nenteng kotak besi berwarna merah di rumah Eninnya seraya berseru,

“Boleh…? Boleh…?”

Awalnya Mamak bingung, tidak mengerti maksudnya apa. Belakangan Mamak lalu tahu bahwa dia sedang menawarkan “produk yang dia perdagangkan”. Kadang ada roti, kadang ada kue, atau es krim beraneka rasa. Kesemua produk itu tentunya hanya ada di dunia imajinasinya, kita yang ditawarinya hanya perlu berpura-pura membelinya dengan menanyakan rasa yang tersedia dan menanyakan harga. Kalau rasa dia bisa menyebutkan ragam yang cukup banyak: coklat, keju, stroberi, atau hanya menyebutkan warnanya seperti es krim hijau, es krim biru, dan lainnya. Untuk harga, Arsyad hanya bisa menyebutkan nominal yang sama untuk setiap produk: lima ribu. Walaupun hanya berbekal sebuah kotak saja dan percakapan sederhana, dia terlihat senang memainkannya bersama Mamak, Papa, maupun anggota keluarga lainnya. 

Padahal Mamak atau Papa belum pernah mendorong Arsyad untuk menyukai kegiatan berdagang ini, ternyata dia sudah terlihat senang melakukan (simulasi)-nya sendiri. Dia menceritakan bahwa yang dia lakukan itu seperti yang ada di dalam buku,

Jiga di buku gening, Ma. Anu jujur. Kue… kue…” *

Katanya, menunjukkan bahwa buku berjudul “Jujur” adalah inspirasinya. Di dalam buku tersebut terdapat cerita seorang anak yang menjual kue kepada anak lain yang berusia sekolah dasar. Sekali lagi, Mamak takjub dengan fitrah belajar anak usia dini ini, juga pengaruh kegiatan membaca buku bersama mereka. So amazing! Menambah semangat kami untuk senantiasa giat membacakannya buku, juga mulai intens mengenalkan buku pada Maryam yang saat ini sudah berusia 6 bulan. 

Rasulullah Saw. adalah Pedagang yang Sukses

Beliau Saw. mulai berkenalan dan terjun langsung ke dunia wirausaha ketika masih muda, belajar dari pamannya, Abu Thalib. Setelah menikah, beliau menangani bisnis istrinya, Khadijah binti Khuwailid dan menghantarkannya menjadi saudagar sukses berkat kepiawaiannya di bidang tersebut. Bahkan, Rasulullah Saw. mengategorikan berdagang sebagai pekerjaan yang paling baik.

Dari Rafi’ bin Khadij, ia berkata, “Ada yang bertanya kepada Nabi: ‘Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?’ Rasulullah menjawab: ‘Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik).” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra 5/263, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 607) **

Belajar mengikuti jejak Rasulullah Saw., semoga Allah Swt mampukan kami untuk mengikuti jejak sukses Rasulullah Saw. salam berbisnis. Saat ini memang langkah Mamak dan Papa untuk memiliki bisnis sendiri masih berupa langkah-langkah kecil. Tapi, semua yang besar berawal dari langkah-langkah kecil, bukan? Menjadi inspirasi nyata untuk anak-anak nanti memahami indahnya kegiatan berdagang ini, adalah salah satu pemicu semangat kami untuk selalu merawat langkah-langkah kecil itu tetap ada. 

Saat ini mungkin Arsyad baru sebatas mengenali kegiatan menjual dan membeli, tetapi bagi kami hal tersebut sudah menjadi langkah awal yang luar biasa untuknya mencintai pekerjaan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. ini. Tugas Mamak dan Papa berikutnya adalah mengenalkan padanya bahwa Rasulullah Saw. pun berdagang dan memahamkannya bahwa kejujuran adalah modal utama seorang pedagang, seperti yang dikisahkan dalam buku “Jujur” favoritnya tersebut.

#KuliahBunSayIIP #Tantangan10Hari #Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

* “Seperti dalam buku itu lho, Ma. Yang berjudul ‘Jujur’. Kue… Kue…”
** Sumber : http://pengusahamuslim.com/3719-keutamaan-berdagang-1896.html

Cerdas Finansial 7 : “Hampir Tidak Jajan”

Salam ikuum…!” 

Terdengar suara Arsyad mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah sepulang dari masjid bersama Papa, ba’da Magrib tadi. Arsyad mendekati Mamak sambil menenteng sebuah susu kotak kesukaannya lalu minta tolong membukakannya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka berbelanja dulu ke warung dekat rumah. Papa membeli kopi instan dan Arsyad susu kotak. Kalau saja tadi mereka tidak ke warung, hari ini Arsyad mendapat award Tidak Jajan Seharian”, hehee. 

#KuliahBunSayIIP #Tantangan10Hari #Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Cerdas Finansial 6 : “Homemade Vs Store-Bought”

Sepulang dari rumah Uyut (Ibunya Abah), Arsyad yang menghampiri kulkas dan membukanya sambil berkata,

Ma, puding, Ma! Achad oyong puding nasi!” *

Mamak jelaskan bahwa puding nasi yang dia minta sudah habis beberapa hari yang lalu. Kemarin siang dia menghabiskan satu kotak kecil puding susu gula aren. 

“Nanti siang kita buat puding nasi, yuk! Seperti kemarin lusa. Arsyad yang masukkan gula, kayu manis dan susunya. Buat puding nasinya nanti habis tidur siang. Oke?”

Arsyad pun mengangguk, tanda menyetujui.

#KuliahBunSayIIP #Tantangan10Hari #Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial