Ketika Anak-anak Mandi Bersama

Ini kejadian yang baru saja teralami tadi pagi. Awalnya, Mamak mempersiapkan air hangat dan perlengkapan mandi pagi untuk Adzkiya tetapi kemudian ada yang berseru,

Mama, ibakna Arsyad heula!”*

Wow, luar biasa. Arsyad berinisiatif untuk mandi sendiri bahkan ingin untuk didahulukan dari adiknya. Ini momen yang sangat langka! Dan baru terjadi tadi. Mamak begitu senang karena hari-hari biasanya diwarnai oleh drama susah mandi. Saking senangnya, Mamak siapkan ember untuk menampung air hangat untuk mandi Arsyad dan langsung mengisi ulang teko untuk segera dipanaskan lagi untuk mandi Adzkiya.

“Dek, maaf ya. Mandinya jadi Aa dulu. Dede tunggu sebentar sambil main dulu, ya.”

Seketika Adzkiya menjerit dan menangis, tidak mau ditinggalkan sendiri di kamar bermain. 

Advertisements

“Art Space”-nya Mamak

Baca kata Art space tuh jadi mengingatkan Mamak pada Selasar Sunaryo di daerah Dago, Bandung. Salah satu art space di Bandung ini kemudian menjadi inspirasi untuk nama proyek pribadi dalam keikutsertaan Mamak di Ruang Berkarya Ibu

RESTART

Jadi sebelumnya, Mamak sudah menuliskan sebuah proyek belajar keluarga yang sebenarnya sudah dan sedang berlangsung. Proyek yang akan dilaporkan pengerjaannya untuk Ruang Berkarya Ibu (RBI) selama 3 bulan ke depan ini adalah “Bukulabumi”, sebuah proyek belajar keluarga. Hanya saja, setelah sesi kedua RBI yang merupakan sesi aksi dengan tugas menyetorkan laporan harian ini berjalan, Mamak merasa tidak bisa membuat laporan ragam kegiatan dari program yang dilakukan oleh semua anggota keluarga PengejaSemesta di proyek “Bukulabumi” tersebut. Oleh karena itu, Mamak kerucutkan fokus untuk proyek RBI ini pada salah satu program belajar Mamak sendiri dari “Bukulabumi”, yaitu BELAJAR DESAIN! πŸ˜ƒ

Program yang akan dilakukan dalam proyek personal ini adalah program latihan mandiri menggunakan efek dan manipulasi visual pada Adobe Photoshop dan latihan menggunakan aplikasi VivaVideo untuk membuat animasi sederhana. Hasil karya dari penggunaan dua perangkat lunak ini nantinya berupa infografis, media belajar anak-anak, hingga video animasi Kisah Nabi. (Yang terakhir disebutkan masih dirancang program kerjanya πŸ™ˆ). 

Kenapa animasi?

INSPIRATION

Mamak adalah pencinta film animasi (apalagi anime, animasi gaya Jepang). Ketika Mamak masih keranjingan serial animasi di waktu kecil, Mamak sempat bermimpi untuk bisa membuat animasi sendiri. Tapi mimpi tersebut tidak serta merta membuat Mamak mengedukasi diri dengan pengetahuan dan mengasah keterampilan yang mendukung secara serius. Waktu pun berlalu. Berita bahwa ada putra Indonesia yang terlibat dalam pengerjaan film animasi The Adventures of Tintin yang rilis pada Tahun 2011 membuat Mamak teringat kembali mimpi saat kanak-kanak itu. I’ll be doing the same, someday. Kira-kira begitu pikir Mamak. Dari sana, mulailah petualangan Mamak mengulik Adobe Photoshop. Meskipun progress-nya tidak begitu signifikan, Mamak tetap senang bisa memanfaatkan sebagian waktu luang Mamak dengan melatih kemampuan dalam mengoperasikan perangkat lunak ini. 

Setelah Arsyad lahir dan tumbuh menjadi balita yang juga senang dengan animasi (seperti Mamaknya πŸ˜‚), mimpi ini kemudian menjadi sebuah tujuan yang harus direalisasikan. Saat ini Mamak ingin bisa membuat video animasi sederhana kisah para Nabi. Mamak yakin, karya tersebut akan menjadi titik tolak pada karya-karya lainnya yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Nantinya, video tersebut akan diunggah ke laman Youtube sehingga bisa diakses dengan mudah dan gratis oleh banyak orang. 

REVISION

Selain nama proyek, logo pun berganti. Nama proyek yang tadinya “Bukulabumi” kini menjadi “Artspace Mamak”, merupakan singkatan dari art space-nya Mamak. Proyek ini akan menghasilkan sejumlah karya seni berupa digital graphic dan video sehingga jika dikumpulkan dalam satu folder khusus itu layaknya karya seni yang dipamerkan di art space. Penggunaan kata space juga tercetus dari luar angkasa (terjemahan laim dari kata space) yang merupakan bagian dari semesta. Kata semesta sendiri merupakan bagian dari family brand kami, PengejaSemesta. Maka ornamen logonya pun sengaja dibuat bernuansa luar angkasa. Monokrom sendiri dipilih sebagai tanda bahwa inilah awal mula dari sesuatu yang besar! (InsyaAllah, aamiin) Seperti film animasi pertama dulu, yang dibuat berwarna hitam putih. Awal yang sederhana untuk memulai perjalanan panjang sejarah animasi hingga saat ini pengerjaannya sudah menggunakan teknologi yang jauh lebih canggih.

ACTION

Sampai hari ketiga belas pengerjaan proyek, Mamak masih berkutat dengan latihan mandiri menggunakan Adobe Photoshop. Baru ada satu video yang ceritanya menggunakan gaya stop motion dengan memanfaatkan aplikasi VivaVideo di smartphone. Cukup puas sebagai latihan dan langkah awal menuju pembuatan video animasi kisah Nabi. 

So exciting! πŸ˜ƒ

#RuangBerkaryaIbu

#IbuProfesional

#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta

#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

#Proyek2RBI

#Day13

#MamakBelajarDesign #ArtspaceMamak

Menikah di Usia 15 Tahun


WARNING. Tulisan ini bukan cerita tentang pengalaman Mamak menikah muda. Lagipula pada usia 15 tahun, Mamak masih senang melakukan hal-hal yang kekanak-kanakan. Ciriciri agak telat aqil-nya nih si Mamak. πŸ™ˆ 

Masih menjadi salah satu parade resume materi ke-11 kuliah Bunda Sayang IIP tentang “Fitrah Seksualitas Anak”, kali ini Mamak membuat resume berdasarkan materi presentasi kelompok Mamak kemari lusa, “Menyiapkan Generasi Aqil Baligh”. Lalu apa hubungannya dengan menikah di usia yang notabene anak-anak masih berada di bangku sekolah menengah? Di tulisan sebelumnya sudah disampaikan mengenai bahasan aqil baligh ini. Singkatnya, anak yang sudah mencapai level aqil baligh, sejatinya dia sudah menjadi manusia seutuhnya yang mana label anak-anak pun sebenarnya sudah tidak layak disandingkan dengannya. Manusia paripurna yang siap mengemban tugasnya membangun peradaban. Salah satu tugas tersebut adalah mencetak generasi penerus yang juga ikut andil dalam pembangunan peradaban tersebut. Dan menikah merupakan jalan untuk mencapai tujuan tersebut.

Di Indonesia saat ini, menikah di usia 15 tahun menjadi hal yang tabu nan kontroversial. Mamak sempat melihat sebuah billboard di pinggir jalan di suatu tempat yang tulisannya menghimbau masyarakat agar tidak menikahkan anak-anaknya hingga mereka cukup umur. Cukup umur di sini berarti 20 tahun ke atas. Dengan adanya kampanye seperti itu, menikah di usia 15 tahun nampak seperti menjadi sebuah dosa yang mengundang cibiran khalayak. Padahal, dengan kondisi aqil baligh yang sudah terlampaui seseorang idealnya sudah memiliki kesiapan untuk membangun rumah tangga. Keluarga dan masyarakat seharusnya mendukung agar orang dengan kondisi tersebut untuk bersegera menikah. Digarisbawahi: bersegera, bukan cepat-cepat ataupun tergesa-gesa.

Lain ceritanya jika individu yang sudah menginjak usia antara 15-17 tahun ini belum mencapai kondisi aqil. Dan hal inilah yang tengah terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Anak-anak baligh di usia yang lebih muda daripada yang seharusnya tetapi aqil sangat terlambat. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

#Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas #LearningByTeaching #BundaSayangSesi11

Generasi Emas = Generasi Aqil BalighΒ 

Membaca judulnya dan menemukan istilah aqil – baligh jadi ingat perkataan Pak Adriano Rusfi terkait istilah tersebut. Menurutnya, dalam Islam sebenarnya tidak ada kondisi aqil-baligh, cukup baligh saja, dimana masa baligh seseorang sejatinya sudah sepaket dengan kondisi aqil. Jika seseorang sudah menginjak usia baligh maka otomatis dia sudah aqil. Namun, fenomena yang terjadi sejak peradaban Islam tak lagi berjaya adalah anak-anak tumbuh dengan kondisi “telat aqil”. 

 Apa itu aqil?

Aqil adalah kondisi tercapainya kedewasaan seseorang secara psikologis, sosial, finansial serta kemampuan memikul tanggung jawab Syari’ah

Bedanya dengan Baligh?

Baligh adalah kondisi tercapainya kedewasaan dari sisi biologisnya, terlihat dari kematangan alat reproduksi. Jadi baligh ini dewasa atau matang secara fisik. Aqil baligh adalah keadaan seseorang yang sampai pada masa baligh dan mencapai kondisi kedewasaan psikologis, sosial dan finansial sehingga orang tersebut sudah mampu memikul tanggung jawab syari’ah. Aqil baligh ini kemudian disebut sebagai mukallaf, yaitu orang yang dibebani dengan hukum syariat.

Mengapa bisa terjadi fenomena “telat aqil”?

Istilah ini Mamak dapat dari mengikuti seminarnya Pak Adriano Rusfi di penghujung 2017 lalu. Rejeki banget ini bisa hadir dalam seminar ini bersama Papa meskipun Papa harus izin tidak masuk kuliah paginya πŸ™ˆ (Yeaaaa… curhat dulu). 

#Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas #LearningByTeaching #BundaSayangSesi11

Mari Hadir di Rumah Seutuhnya (Pendidikan Seksualitas Berbasis Fitrah Bag. 6)

Jika hubungan (bonding) antara orang tua dengan anak lekat, dekap, dan dekat, mereka akan memiliki imun yang kuat untuk mencegah hal yang tidak baik. (Ninik – Kelas Bunda Sayang Bandung 2, 2018)

Mengutip sepenggal dari penyampaian salah satu penyaji materi kemarin yang bertajuk “Pentingkah Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak?”, Mamak serasa diingatkan kembali tentang urgensi kehadiran orang tua secara utuh di rumah, menemani anak-anaknya. Dan bukan secara kebetulan, hari ini Mamak merasakan bahagianya bisa lekat, dekap dan dekat bersama Arsyad dan Adzkiya! ❀

Lho, Mamak kan ibu yang stay at home, kuncen rumah, alias IRT? Harusnya selalu bisa lekat-dekap-dekat, dong?

Nah, ini yang melenakan. Ternyata IRT juga bisa mengalami masa-masa jauh dari rumah padahal dia sedang di rumah. Nah lho… Misalnya ketika sedang disibukkan oleh pekerjaan yang memang dikerjakan di rumah tetapi sangat menyita konsentrasi dan perhatian sang ibu sehingga tidak bisa optimal menemani anak-anaknya, seperti Mamak kemarin ketika mengerjakan proyek buku yang berkejaran dengan waktu. πŸ™ˆ

Back to the topic. Jadi, apakah membangkitkan fitrah seksualitas anak? Jawabannya pasti penting karena berhubungan dengan fitrah. Fitrah, apapun ranahnya, perlu dikembangkan dengan baik berdasarkan tahapan-tahapan tertentu agar anak tumbuh menjadi insan sejati sesuai dengan syaakilah-nya. Termasuk fitrah seksualitas ini. Selain alasan tersebut, ada pula beberapa hal yang menjadi perhatian kita sebagai orang tua yang membuat tendensi dari pertanyaan tadi mengarah pada jawaban “penting”.

Check this one out~

Movement speed-nya terlalu cepat, ya? πŸ˜… Maklum, jatah untuk membuat file berformat .gif hanya bisa 5 detik saja (karena Mamak menggunakan aplikasi versi gratis, hehee). 

Kasus-kasus yang disampaikan tadi menambah level urgensi pendidikan fitrah seksualitas ini. Fitrah seksualitas yang terbangkitkan dengan baik dan benar sesuai dengan yang semestinya akan mencegah anak-anak kita mengalami hal-hal yang mengerikan itu. 



#Tantangan10Hari #FitrahSeksualitas #LearningByTeaching #BundaSayangSesi11

Etika Posting Foto Anak di Medsos

Sudah cukup lama sebenarnya Mamak mendapatkan infografis ini di linimasi Instagram. Dalam tulisan kali ini, Mamak tidak akan membahas etika tersebut dengan mencantumkan wejangan-wejangan para ahli. Namun, Mamak akan coba ceritakan pengalaman Mamak sendiri di rumah dan how does it feel ketika ber-medsos dengan menaati etika posting foto anak tersebut. 
Sebagai orang tua zaman now, kita pasti sering tergoda untuk membagi segala tingkah si kecil di medsos. Eh tapi sebaiknya orangtua juga perlu sadar dengan risikonya. Salah-salah, media sosial bisa jadi bumerang yang dapat mengancam keselamatan anak.

.

Foto anak tanpa busana yang kita anggap wajar, bisa menimbulkan kesan ‘berbeda’ pada pengguna internet lainnya. Parentalk pun berbincang dengan Pendiri Lembaga Literasi Media Sosial Literos.org Nukman Luthfie.

.

β€œKalau kita posting foto anak-anak, kita enggak tahu postingan mana yang dapat merangsang orang-orang dengan kelainan itu. Kalau kita posting dan ada yang terangsang, dia akan mencari di mana anak ini berada. Mereka enggak lihat umur, lho. Dari yang kecil, ada yang masih bayi aja diperlakukan tidak senonoh. Apa kita mau mengekspos anak kita dengan hal-hal begitu?” jelas Mas @nukman kepada Parentalk.

.

Semoga kita adalah orangtua yang bijak menggunakan medsos, demi keselamatan anak-anak kita 😊

#Parentalk #MillennialParenting #socialmedia#parenthacks #literasidigital

Belajar dan Terinspirasi dari TED-Ed

Beberapa kali Mamak mencari video yang menjelaskan tentang suatu fenomena di Youtube, video dari channel TED-Ed selalu muncul dari sekian banyak suggestion video yang diberikan. Dan TED-Ed tidak pernah mengecewakan Mamak, baik itu konten pelajarannya maupun presentasinya yang berupa animasi yang eye-catchy. Seperti video berikut ini:

https://youtu.be/BmFEoCFDi-w

Apa itu TED-Ed? Continue reading “Belajar dan Terinspirasi dari TED-Ed”

Membuat Stop Motion Video di Smartphone ala Mamak

Membuat film animasi dengan alur cerita dan karakter buatan sendiri merupakan salah satu cita-cita Mamak sewaktu sekolah dulu. Dulu sempat membeli buku tutorial membuat animasi juga dengan menggunakan sebuah perangkat lunak untuk PC (sayangnya Mamak sudah lupa namanya dan sampai saat ini belum pernah pasang program tersebut di PC maupun netbook Mamak πŸ˜‚).

Gairah membuat animasi pendek terbangkitkan kembali ketika mengikuti kegiatan ekstrakulikuler IT bersama para siswa SMAN 6 Bandung saat praktek lapangan beberapa bulan sebelum Mamak lulus kuliah. Program yang digunakan saat itu adalah Adobe Premiere. Tapi sudah beberapa tahun ini program tersebut di-uninstall karena memberatkan kinerja netbook Mamak. Akhirnya eksperimen pembuatan videonya terbatas hanya dapat menggunakan program Windows Movie Maker. Dan… itupun terhenti karena selepas proses install ulang netbook, Mamak jadi tidak bisa menggunakan program tersebut. Akhirnya, sayonara video making! Continue reading “Membuat Stop Motion Video di Smartphone ala Mamak”